Sore itu tampak hujan membasahi setapak jalanan di kota Jakarta. Hanya sedikit orang-orang yang berlalu-lalang di jalan saat itu. Aneh memang, padahal biasanya jalanan kota Jakarta begitu padat kini terlihat sepi. Suasana langit sore itu mengingatkan kejadian pada beberapa tahun lalu. Di mana ketika hujan seperti ini, terjadi kecelakaan di perempatan jalan menuju Cikampek. Mobil Kijang merah menabrak trotoar jalan hingga menyebabkan suara yang sangat mengejutkan penduduk sekitar. Tentu saja kondisi mobil dan pengemudinya sangat mengenaskan. Mobil remuk, pengemudi dan penumpang lain mengalami kecelakaan yang serius dan tak sempat untuk ditolong. Korban yang tewas pada kecelakaan itu ada tiga orang, dua pria dan satu wanita. Setelah mengecek ke TKP, dugaan pertama polisi adalah pengemudi dalam kondisi mabuk dan hilang keseimbangan, sehingga menabrak trotoar jalan. Namun, ada kejanggalan dalam kecelakaan itu, polisi tidak menemukan botol minuman keras ataupun obat-obatan terlarang pada saat itu. Sampai sekarang kecelakaan itu tak jelas penyebabnya, begitu juga keluarga korban sudah mengikhlaskan kejadian itu.
Memang kawasan jalanan tersebut terkenal cukup angker. Sering terjadi hal-hal aneh pada saat pengendara melewati jalan perempatan tersebut. Paranormal pun sempat didatangkan untuk melihat bagaimana aktifitas gaib di sana. Benar sekali, banyak terdapat mahkluk-mahkluk selain manusia di sana. Seperti ada sebuah kerajaan makhluk halus, dan mereka tidak senang kalau ada orang yang melewati jalanan tersebut. Sehingga mereka suka sekali mengganggu para pengguna jalan. Dengan menampakkan diri mereka langsung ke pengguna jalan. Ada juga yang membuyarkan pandangan pengendara mobil dan sepeda motor.
Rina dan Satrio merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan teman mereka. Mereka berdua adalah teman dari Danu yang mengalami kecelakaan mobil di trotoar angker itu. Rina merasa kepergian Danu sangat menyakitkan baginya, pasalnya Rina dan Danu memiliki kedekatan hubungan lebih dari teman. Satrio adalah sahabat Danu, dia juga tak bisa menerima kejadian tersebut begitu saja. Dengan rasa peduli terhadap Danu dan Rina, Satrio siap membantu Rina membuka kejanggalan kecelakaan yang dialami Danu.
Permulaan Rina dan Satrio mengunjungi rumah salah satu warga yang tinggal dekat dengan trotoar angker tersebut.
"Permisi, Pak. Saya Satrio dan ini Rina, kami teman dari pengemudi yang mengalami kecelakaan minggu lalu."
"Oh, iya iya ada apa ya Dek?" Tanya pria itu heran.
"Saya dan teman saya ini, masih belum menerima penyebab kecelakaan teman saya Danu itu. Polisi menyimpulkan bahwa Danu dalam kondisi mabuk pada saat itu. Setau saya, Danu bukanlah seorang peminum. Apalagi tidak ditemukan botol minuman keras di mobilnya. Bisa Bapak jelaskan apa kira-kira yang terjadi di sana?"
"Oh begini ya Dek. Sebenarnya saya dan warga sini juga sudah mengetahui apa sebenarnya penyebab kecelakaan itu. Mereka melewati kerajaan makhluk halus Dek. Tanpa ngucapkan permisi atau sembrono gitu. Mungkin mereka melihat sesosok wanita yang sering muncul tiba-tiba di jalan. Lalu banting stri dan menabrak trotoar."
"Kerajaan? Kerajaan apa Pak? Dan siapa wanita itu Pak" Tanya Rina kaget.
"Hmm... Kerajaan Jin, Dek. Wanita itu adalah anak dari raja jin di situ. Dia suka sekali mengganggu pengguna jalan." jawabnya pelan.
"Serius Pak? Masa masih ada sih hal-hal seperti itu di kota Jakarta ini." Tanya Danu tidak percaya.
"Iya Dek. Mungkin sudah lama kerajaan itu berdiri. Dari zaman penjajahan Belanda mungkin sudah ada. Tapi orang di sini, sudah terbiasa dengan hal itu. Kebanyakan kecelakaan terjadi dari orang-orang yang bukan berasal dari sini. Semacam permintaan korban gitu."
Mendengar cerita dari bapak itu, Rina dan Satrio mulai merinding. Tetapi, mereka akan baru memulai kegilaan ini dengan mendatangi lokasi kecelakaan Danu dan kawan-kawan lain, untuk memecahkan misteri dari perempatan jalan tersebut. Soalnya di dalam mimpi, Rina sering didatangi oleh Danu yang mengatakan bahwa arwahnya masih terjebak di tempat ia mengalami insiden kecelakaan maut tersebut. Semakin menambah ngeri situasi saat itu. Mereka tidak mempersiapkan apa-apa untuk datang ke lokasi tersebut, hanya dengan keyakinan penuh mereka siap menerima apapun risiko yang akan terjadi.
"Ya sudah entar malam, sekitar jam 11 kita ke sana. Kamu berani kan?" Tanya Satrio ke Rina.
"Agak takut sih, tapi ya ga mau kita harus tetap ke sana. Kamu ada kenalan orang pintar gitu? Bawa aja nanti ke sana ya Sat."
"Oh, ada ada. Mbah Sugeng, tetangga aku. Dia sepertinya bisa membantu kita. Entar aku ngomong sama dia."
Malam itu, Satrio mendatangi rumah Mbah Sugeng yang tidak beberapa jauh dari rumahnya. Mbah Sugeng memang cukup terkenal di daerah itu. Dia sering panggil ketika ada orang yang kesurupan. Terkadang ada juga orang yang berobat dan ada mencari peruntungan hidup dengannya. Tapi Mbah Sugeng menolak dipanggil dukun, dia lebih senang disebut orang yang diberi kemampuan lebih oleh Tuhan.
"Malam mbah, apa mbah ada waktu malam ini? Saya perlu bantuan mbah". Karna mbah 'orang yang pintar', dia sudah tahu maksud kedatangan Satrio malam itu.
"Hmm.. Oke Sat. Saya sudah tahu maksud kedatangan kamu. Ya sudah, entar saya kabarin lagi." Jawab Mbah Sugeng santai.
"Terimakasih banyak mbah, kalau soal biaya entar saya beri lebih deh."
"Tidak usah Sat, mbah juga ada keperluan lain di sana. Nanti kamu cukup sediain ayam kampung hitam satu ekor. Itu aja Sat. Ya sudah, mbah ada keperluan lain. Mbah pergi dulu."
"Oh terimakasih banyak mbah.". Satrio langsung bergegas mencari ayam kampung hitam yang disuruh oleh Mbah Sugeng tadi. Satrio menghubungi Rina kalau Mbah Sugeng sudah mau ikut nanti malam.
Rina sepertinya kelihatan ragu-ragu untuk ikut ke sana. Kondisi tubuhnya sedang tidak fit saat ini. Namun, demi rasa sayangnya kepada Danu, ia harus ikut dalam perjalanan misteri ini. "Danu adalah orang yang aku sayang, walaupun dia sudah tidak, dia akan tetap ada di ruang khusus di hatiku ini."
Bersama Mbah Sugeng, Satrio menjemput Rina dengan mobil di kediamannya, komplek perumahan Cempaka Asri. "Rin, siap-siap ya. Aku sama Mbah uda di jalan kerumahmu.". Rina langsung bersiap-siap dan menunggu di ruang tamunya. Orangtua Rina tidak mengetahui kalau Rina akan pergi ke sana. Pasti saja orangtua Rina tidak mengizinkannya. Rina hanya bilang kalau dia akan pergi menginap di rumah salah seorang temannya.
Setelah menjemput Rina, mereka langsung bergegas menuju lokasi maut tersebut. Sepanjang jalan menuju ke sana, Rina selalu terbayang oleh wajah Danu. Seolah-olah Danu sudah menunggu kedatangannya. "Mbah, apa benar arwahnya Danu masih dilokasi itu? Tanya Rina penasaran. "Benar Dek, arwahnya Danu 'tersangkut' di sono. Ada sosok jahat yang menahan arwahnya. Saya akan coba membebaskannya dengan izin Yang Maha Kuasa.". Rina sangat kaget mendengarnya, sama seperti mimpinya kalau Danu meminta dibebaskan dari tempat itu, seolah-olah dia sedang terpenjara.
Sesampainya di sana, terlihat Mbah Sugeng mulai mengadakan ritual. Dia membakar menyan dan memotong leher ayam yang dipesannya tadi kepada Satrio. Rina dan Satrio hanya terdiam melihatnya, mereka cukup ketakutan ketika melihat darah ayam itu bercucuran. Mbah Sugeng menyalakan rokok dan meletakkannya di piring kecil. Terdapat beberapa macam bunga di situ. Situasi yang sangat mencekam. Tiba-tiba si Mbah seperti berkomat-kamit dalam bahasa Jawa. Tak dapat dimengerti dan tak begitu jelas apa yang diucapkannya. Lalu dia bercerita kepada Rina dan Satrio kalau arwah Danu ditahan dan akan dinikahkan dengan anak dari kerajaan jin tersebut. Sontak saja Rina kaget mendengarnya.
"Tidak mungkin mbah, ini ga boleh terjadi!" Teriak Rina.
"Iya, Mbah juga tak akan membiarkan hal ini. Seharusnya arwah Danu sudah seharusnya kembali kepada-Nya. Saya akan berusaha untuk membebaskannya."
Rina begitu histeris saat ini. Dia terkulai lemas, dan perlahan matanya memerah. Tiba-tiba dia berbicara pelan. "Pergi.. Pergi kalian dari sini! Aku tak akan melepasnya!". Seperti ada sosok lain yang masuk ke dalam tubuh Rina. Dia merontah-rontah. Satrio langsung memegang erat tubuh Rina. Mbah Sugeng langsung mengambil posisi untuk berdialog dengan sosok yang ada di dalam tubuh Rina.
"Kamu sopo? Kenapa kamu mengganggu kami?" Tanya mbah memberi perlawanan.
"Koe yang sopo! Jangan mengusik ketenangan kami! Pergi koe! Dia (Danu) milikku! Aku akan menikah dengannya! Aku trisno dia!".
"Ora iso! Kamu iku jin! Menikahlah dengan kaummu! Bukan dengan dia!"
Sepertinya sosok yang masuk ke dalam tubuh Rina adalah anak dari kerajaan jin tersebut. Dia bersih-keras untuk menikah dengan Danu. Si mbah langsung melakukan gerakan dan berkomat-kamit tidak begitu jelas. Dia menyemburkan air rendaman bunga tujuh rupa ke wajah Rina. Beberapa detik kemudian Rina terkulai lemas dan perlahan sadar.
"Ada apa denganku Sat?" Tanyanya lemah.
"Tadi kamu dirasuki sama jin yang mau nikahi arwahnya Danu, Rin"
"Wah, terus apa yang dia bilang?" Tanya Rina penasaran.
"Jin itu bersihkeras mau menikah dengan arwahnya Danu. Dia ga suka akan kedatangan kita kemari. Tapi tadi si mbah akan berusaha membebaskan Danu kok, tenang aja."
Terlihat Mbah Sugeng memulai ritualnya kembali. Dia kelihatannya serius kali ini untuk melawan para jin yang menahan Danu. Suasana sangat mencekam saat itu, ditambah angin yang cukup kencang menambah suasana menjadi semakin mistis.
"Wahai kalian penguasa tempat ini! Tahukan kalian kalau Alloh lebih kuat dari kalian? Lepaskanlah arwah yang seharusnya kembali pada-Nya! Kalian tak berhak untuk memilikinya!" Teriak Mbah Sugeng menantang.
Tiba-tiba Mbah Sugeng terlempar dari tempatnya berdiri. Seakan-akan ada yang melemparkannya. Rina dan Satrio hanya terpaku melihatnya. Dari hidung Mbah Sugeng keluar darah. Namun ia bangkit kembali untuk memberi serangan balik. Dia mengeluarkan kris tua dari sakunya. Kris tersebut kelihatannya berumur cukup lama dan mempunyai kekuatan mistis.
"Kali ini aku akan serius menghadapi kalian para jin terkutuk!" Tantang Mbah Sugeng. Terdengar semacam suara mendesis seperti ular dari kejauhan. Mbah Sugeng kelihatanya mulai kelelahan menghadapi para jin tersebut. Namun serangan terakhir Mbah Sugeng sepertinya berhasil. Dia menghunuskan kris ke satu titik yang tiba-tiba bersinar terang. Lalu dia terduduk dan berkata "Dengan ijin Alloh, akhirnya kalian dapat kukalahkan. Pergilah dari sini! Lepaskan anak itu. ini bukan tempat yang pantas buat kalian. Buatlah kerajaan lain di tempat yang sepi, bukan ditempat keramaian seperti ini!"
Seolah-olah ada mahkluk lain yang masuk ke tubuh Mbah Sugeng, lalu dia tersadar dan menutup kembali krisnya tersebut. "Arwah Danu teman kalian sudah bebas sekarang, dia sebentar lagi akan pergi dari sini. Ucapkanlah kata perpisahan untuknya." Kata Mbah Sugeng lirih.
"Danu... Aku kangen kamu. Semoga arwahmu tenang di sana ya. Kamu akan tetap ada di hati aku. Aku sayang kamu Danu.." Kata Rina yang perlahan meneteskan air matanya.
"Iya Dan. Lo sahabat gue yang paling baik. Semoga arwah lo tenang di sana ya Dan. Sampai kapanpun gue dan Rina ga akan ngelupain lo. Selamat tinggal Danu." Kata terakhir dari Satrio kepada Danu dan matanya pun berkaca-kaca.
Suasana saat itu begitu mencekam dan mengharukan. Akhirnya arwah Danu telah terbebas dari tahanan para jin yang ingin menikahinya. Danu kini betul-betul telah pergi, meninggalkan orang-orang yang menyayanginya. Beberapa minggu kemudian, kehidupan Rina kembali normal. Di dalam mimpinya, ia tak pernah lagi didatangi oleh Danu. Namun kenangannya bersama Danu tetap membekas dibenaknya, yang perlahan terkubur dengan beriringnya waktu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar