Kamis, 24 Mei 2012

Amarah dan Cinta

Malam itu, hujan terlihat turun cukup deras di daerah Komplek Cempaka Indah kawasan Bekasi. Dedaunan menunduk diterpa oleh tetesan hujan, seolah-olah daun pun mensyukuri kenikmatan yang diberikan Tuhan.
Di kejauhan tampak sepasang bola mata diguyur oleh airmata yang menetes dengan pelannya. Yang hanya ditemani oleh lantunan tembang lawas, mungkin lagu tahun 70an. Serasa kembali ke masa kakek-nenek kita. Mirha memang cukup suka mendengar lagu seperti itu, karna orangtuanya cukup sering memutar lagu semacam itu sejak ia masih kecil hingga sekarang.
Mirha Rinaldi adalah wanita muda berusia sekitar 18 tahun. Kulit putih bersih dan paras wajahnya yang cantik, sangat mirip dengan ibunya. Pantas saja banyak lelaki yang berlomba untuk menarik perhatiannya. Ia berkuliah disalah satu universitas swasta di Jakarta. Dia hanya tinggal berdua bersama ayahnya, karna ibunya sudah meninggal setahun yang lalu.
Tampak sambil menangis ia memeluk foto almarhum ibunya, dan berkata, "Ma... Mirha kangen mama". Malam ini pun mungkin ikut bersedih menemani kepiluan hati Mirha. Dan Mirha pun tertidur sambil memeluk foto ibunya.
Keesokan harinya, terlihat mata Mirha sedikit sembab akibat menangis semalaman. Buru-buru dia mencuci matanya karna takut ayahnya tahu kalau Mirha menangis lagi. Ayahnya tak suka jika Mirha terus-terusan bersedih akibat kepergian ibunya.
"Hari ini hari minggu, jadi papa gak pergi ngantor. Hmm.. gimana yah kalo aku ngajak papa jalan-jalan keluar, sekalian refreshing pikiran, hehe." katanya dalam hati. Lalu Mirha menghampiri papanya yang sudah menantinya di meja makan.
"Kok lama banget kamu bangunnya? Pasti tadi malam bergadang lagi kan sambil Facebookan? Sini ayo cepat makan, ada yang mau papa bilang setelah itu" seru papa.
"Hehe.. Papa tau aja, (padahalkan aku nangis sampai ketiduran tadi malam, hikshiks" seru Mirha.

-#-

Setelah selesai sarapan, papa mengajak Mirha ke halaman belakang untuk berbicara. "Mir.. ada yang papa mau omongin ke kamu, tapi papa takut kamu gak bisa terima dengan perkataan papa ini" kata papa dengan nada sedikit takut.
"Mau ngomongin apa pa? Ngomong aja pa, gak apa-apa kok" seru Mirha dengan heran.
"Yauda papa akan ngomong. Begini Mir, kita kan cuma berdua tinggal di rumah ini selain si mbok. Apa kamu gak kesepian?
"Maksud papa kesepian gimana?"
"Maksud papa. Anu.. Eh.. Apa kamu gak butuh perhatian lebih selain dari papa?"
"Owh, kan ada Mbok Inah pa. Mbok Inah perhatian banget kok sama Mirha. Ditambah dengan perhatian papa ke Mirha itu udah cukup kok pa."
"Maksud papa, apa kamu gak butuh kasih sayang dari seorang ibu?"
"Mirha ngerti. Papa mau menikah lagi kan? Mirha gak butuh kasih sayang dari wanita lain pa. Kasih sayang yang uda papa berikan buat Mirha itu uda cukup pa. Lagian mama baru setahun lalu meninggal. Apa papa uda gak sayang lagi sama mama?!" jawab Mirha menangis dan sedikit marah,
Tanpa mendengarkan penjelasan papa, Mirha langsung berlari ke kamar.

Besambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar